Rabu, 16 Oktober 2013

SAVE ARU

kepulauan aru dan milyaran kekayaan alam yang ada didalamnya merupakan bagian terpenting bangsa ini. Mutlak mendapatkan belas kasihan dan perlindungan atas segala macam kerusakan dan pengrusakan  atas tanah yang berdiri kokoh dalam barisan bangsa indonesia. “Tanpa aru maka, tidak ada indonesia”, Logika sederhana untuk menggambarkan makna  total indonesia.

Dengan hadirnya rencana jangka panjang pemerintah untuk menjadikan indonesia sebagai penghasil gula terbesar ke 7 di dunia pada tahun 2030, tanah yang mejadi nafas masyarakat aru,burung  cendrawasih, kanguru, kakatua hitam, merpati putih, rela dialokasikan untuk kepentingan nama besar bangsa dan membengkakkan kantong-kantong penguasa tanpa mempertimbangkan aspek sosial yang nantinya masyarakat Aru akan lumpuh dalam menjalankan aktifitasnya.

Pulau yang hanya memiliki luas wilayah 643.000 Hektar, 500.000 hektar akan di alokasikan untuk membangun perkebunan tebu, dimanakah kehidupan pasca proyek mega raksasa ini terealisasi ??     
Dengan asumsi diatas, maka tidak mengurangi rasa hormat kepada seluruh anggota, KAMI atas nama IKATAN ALUMNI SMA NEGERI 11 AMBON-Makassar, memberikan sebuah pernyataan sikap   bahwa :

MENOLAK KERAS IZIN PEMERINTAH ATAS PEMBANGUNAN PROYEK PERKEBUNAN TEBU DI KEPULAUAN ARU. DENGAN PERTIMBANGAN BAHWA MASYARAKAT DAN MAHLUK HIDUP LAINYA  MEMBUTUHKAN KEHIDUPAN YANG LAYAK DAN BERHAK ATAS TANAH KELAHIRANNYA.

Aru butuh katong pung dukungan moril, jang pura-pura buta deng tuli. bale balakang la lia negri, Nusa Ina manangis karena saparu hidop orang Maluku dong mau rampas akang. Mari pengang tangan la lia sudara, mari katong perkuat filosofi ALE RASA BETA RASA.


Wasalam.

Bahry Al-Gifary Wattimena


Rabu, 21 November 2012

AWAL DARI REVOLUSI KECIL


 Berawal dari kesadaran orang tua akan pentingya pendidikan di zaman modern ini, dan di dorong oleh keinginan untuk melakukan perubahan dalam ekonomi keluarga, serta kesadaran individu yang melatar belakangi sehingga takdir membawaku untuk berpijak di kota ini.

Di sinilah keterasinganku di awali, lingkungan memaksa aku untuk  hidup dalam kesendirian, lingkungan pula yang memaksa aku untuk  jauh dari kebiasaan,  hubungan dengan kedua orang tua dan keluarga hanya bisa tersampaikan lewat komunikasi telpon genggam, namun takdir tuhan menuntunku untuk melakukan perubahan secara perlahan hingga sampai pada perubahan secara keseluruhan. inilah masa-masa  sulit yang pernah ku lewati demi meraih impian besar keluarga dan cita-citaku sebagai seorang musafir pengetahuan.

Menelusuri sudut-sudut kota ini adalah awal penyesuaian diri dengan karakter  kota daeng. Dimulai dari mengunjungi berbagai tempat rekreasi yang mendunia, seperti MALINO, BANTIMURUNG, hingga ke ujung sulawesi selatan(TANJUNG BIRA)sekalipun, pernah ku datangi sampai pada wisata kuliner kota ini pun pernah kusinggahi. Hanya demi rasa ingin bernostalgia dengan kebiasaan pada sama-masa ku terdahulu.

Selanjutnya adalah fase penyesuaian diri dengan dunia kampus, saya adalah mahasiswa fakultas TEKNIK, jurusan SIPIL, di universitas “45” makassar. Dengan kondisi jiwa yang masih sangat  labil dan sangat gampang untuk di rasuki oleh siapapun dari segi pikiran maupun tindakan. Selalu mencoba hal-hal yang baru tanpa memiliki dasar alasan yang kongkrit untuk jalani semuanya. Selama kurang lebih 2 semester aku terjebak dalam mazhab pemikiran primitif dan non rasional yang sangat jauh dari dunia intelektual seperti akademik maupun oraganisasi.

Upayah untuk keluar dari masa-masa kritis itu, aku pun terus berfikir dan selalu merenungkan setiap tindakan yang pernah ku lewati, yang kemudian di dorong oleh keingin yang sangat kuat dan kesadaran akan pertingnya perubahan untuk mencapai sesuatu yang hakiki, maka berdasarkan buah pikiran yang sehat dan berbagai pertimbangan akan konsekuensi dari setiap pilihan, maka ku putuskan untuk berproses di lembaga-lembaga internal maupun eksternal kampus. Terjun langsung dalam dunia kemahasiswaan, berperan aktif dalam setiap kegiatan-kegiatan kelembagaan. Dengan tujuan untuk merubah kondisi masyarakat yang semakin terpuruk akibat di tindas oleh para penguasa. terus melangkah menelusuri lorong-lorong makna, menjelajahi pengetahuan lewat forum-forum ilmiah, menggali pengetahuan dalam buku-buku yang di tulis oleh tokoh-tokoh revolusi dunia. Sehingga aku pun sampai pada sebuah kesimpulan bahwa “ketika ingin melakukan perubahan sosial(masyarakat) maka, terlebih dahulu kita melakukan perubahan dalam diri, sebagai nilai yang akan di bawa ketika merealisasikan  perubahan sosial(masyarakat), yang di awali dengan perubahan cara berfikir”.

     Nah, saat ini saya mencoba untuk mengaktualkan potensi sebagai  seorang mahasiswa untuk menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya. Memperkaya khasana pengetahuan, mendalami ilmu-ilmu perubahan untuk bisa merealisasikan tujuanku merubah cara berfikir masyarakat hingga perubahan sosial itu bisa terwujud dengan baik dalam balutan kebenaran dan keadilan, amin.
  
         Seiring berjalannya waktu, pikiran, tindakan serta kebiasaan berubah ke arah yang lebih manusiawi. Mulai meninggalkan dunia gelapku, lebih bijak dalam berfikir, sangat menghargai proses, berhati-hati dalam bertindak, tanggung jawab individu melai di tunaikan, tanggung jawab sosial mulai di rencanakan menuju tahapan implementasi. itu adalah buah dari berpijaknya aku di kota ini.   

     Inti dari pembahasan ini adalah ungkapan terima kasih kepada kedua orang tua, yang telah mempercayakan aku untuk berpijak dan menuntut ilmu di kota ini, terima kasih kepada senior-senior yang telah mengarahkan pikiran serta tindakan ku yang gelap menjadi temaram. Spesial terima kasih ku kepada orang-orang yang telah menjadi semangatku dalam berproses. Semoga tuhan senanantiasa melindungi serta merahmati kalian dalam aktifitas dimanapun kalian berada.

      Di kota ini lah ku temukan jati diriku, sebagai seorang manusia juga sebagai seorang mahasiswa. makassar meyulap aku yang hina menjadi seorang manusia yang berharga serta memiliki nilai di mata keluarga dan lingkungan ku dahulu.

“Terima kasih makassar, tanpamu aku hanyalah segelintir orang yang selalu merindukan kesempurnaan dan tak tahu arah serta tujuan hidup”